UBB Press / Eddy jajang, Ari Rizki
PUKUL GONG -- Rektor UBB Dr Ir Muh Yusuf MSi (tengah) memukul gong sebanyak tiga kali menandai peresmian Agripreneur Fest 2018 di Lapangan Basket Kampus UBB, Balunijuk, Merawang, Selasa (10/10/208) pagi. Agripreneur Fest 2018 berlangsung tiga hari, sejak 9 hingga 11 Oktober 2018.
BANGKA, UBB -- Rektor Universitas Bangka Belitung (UBB) Dr Ir Muh Yusuf MSi minta seluruh mahasiswa perguruan tinggi negeri ini untuk tak kenal lelah dalam mengembangkan jiwa dan semangat kewiraswastaan di diri mereka masing-masing.
Pasalnya, melalui kewiraswastawan itu, kelak setelah lulus kuliah dari UBB mereka akan terjun sebagai wiraswastawan profesional. Mereka tidak hanya sekadar menolong diri sendiri, tapi lebih dari itu membuka lapangan kerja baru dan menyerap tenaga kerja di sekitarnya.
“Terus asah dan tumbuhkan entrepreneurship, itu berguna sekali setelah lulus dari UBB. Sebagai wirastawan, tentu akan buka lapangan kerja baru!,” tegas Muh Yusuf ketika membuka resmi Agripreneur Fest 2018 di Lapangan Basket Kampus UBB, Senin (9/10/2018) pagi.
Peresmian Agripreneur Fest 2018 ditandai pemukulan gong oleh rektor, dihadiri Dekan Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi (FPPB) UBB Dr Tri Lestari MSi, Wadek Dr Eva Helda MSi, Ketua Prodi Agribisnis Yudi Sapta P SP MSi, Ketua Prodi Biologi Dr Eddy Nurcahya, dosen dan mahasiswa UBB.
Mengusung tema ‘Agripreneur Lead for the Future’, Agripreneur Fest 2018 yang digelar mahasiswa Program Studi (Prodi) Agribisnis UBB ini berlangsung dari 9 hingga 11 Oktober 2018. Sedikitnya 20 stand ikut meramaikan, di antaranya dari UMKM, kelompok tani, kelompok wanita tani, PT Timah Agro Mandiri, Bulog dan Dinas Tanaman Pangan Bangka Tengah.
Rektor Muh Yusuf menilai positif sejumlah acara yang digelar Agripreneur Fest 2018, seperti ‘talk show’ tentang prodi Agribisnis, Lomba Rangking 1, daur ulang, pementasan seni dan eksposisi produk pertanian dan perikanan -- mulai dari hulu hingga hilir --, kuliner dan industri olahan rumahtangga.
Menurut rektor, kehadiran stand dengan beragam produk yang diperlihatkan, dapat mempertajam jiwa kewiraswastaan kalangan mahasiswa. Sebab mereka dapat melihat langsung dan kemudian mengalisis segmen pasar, serta produk mana saja dari sektor riil yang diperlukan konsumen.
“Kita akui, memang untuk menumbuh-kembangkan jiwa kewiswastaan itu bukan perkara mudah. Selain perlu dukungan dari orangtua, juga harus muncul dari diri mahasiswa itu sendiri. Di kelas ada matakuliah kewiraswastaan dan mata kuliah lain yang berhubungan dengan bisnis,”ujar rektor.
Dijelaskan, dalam menumbuh-kembangkan jiwa kewiraswastaan, mahasiswa tidak boleh berpikir linier. Melainkan harus kreatif dan inovatif, terlebih lagi di era persaingan ekstra ketat pada era revolusi industri saat ini; terobosan sudah menjadi basis aksi setiap jenis usaha.
“Kreatif, inovatif dan terobosan; tiga kata ini harus menjadi habituasi kewiraswastaan. Sesuatu yang sepintas tidak bisa dilakukan, lewat tiga kata itu ternyata mungkin kita lakukan. Tegoklah angripreneur Thailand. Sesuatu yang semula tidak bisa tumbuh, disana dapat tumbuh dan berbuah produktif ,” ujar rektor.
Tanaman kurma yang dihabitatnya -- di Jazirah Arab -- tumbuh subur, melalui perlakuan khusus di Thailand ternyata juga dapat tumbuh dan kemudian berbuah lebat. Demikian pula jenis tanaman lain. Di negara asalnya tidak produktif, di Thailand dapat berproduksi tinggi dan kembali diekspor.
“Kita harus mensinergikan ilmu yang diperoleh dari bangku kuliah di kampus dengan dunia praktik. Ini berarti pula dunia akademisi harus ‘dikawinkan’ dengan sektor riil. Jangan sampai terlambat, dan memang sebagai wiraswastawan tidak boleh terlambat!,” tukas Muh Yusuf.
Menurut rektor, peluang usaha di Kepulauan Bangka Belitung masih sangat luas dan beragam. Mulai dari sektor hulu hingga hilir, dengan membuat produk atau jasa, atau gabungan keduanya terbuka lebar. Bahkan sambungnya, di sini pasokan bahan bakunya pun tergolong melimpah.
“Sedikit contoh adalah jeruk kunci yang setelah diolah sedemikian rupa menjadi minuman segar. Biji dan tangkai mangrove, menjadi pewarna alami batik dan minuman segar. Begitu pula nenas, bisa dibuat berbagai jenis makanan kering seperti dilakukan di Malang,” ujar Muh Yusuf.
“Kita perlu banyak belajar dari cerita sukses wiraswastawan Malang. Buah apel dan buah apapun dapat mereka olah menjadi makanan kering,” ujar Muh Yusuf, seraya minta kepada pengelola program studi untuk membawa mahasiswanya kuliah lapangan ke sejumlah industri pengolahan.
“Kegiatan perkuliahan bisa dilakukan di salah satu perkebunan yang bagus dan berhasil. Tak usah jauh-jauh, bisa di Bogor, ataupun di Puncak. Tak hanya pertanian saja, peternakan juga perlu didatangi,” tambah Muh Yusuf.
Dihadiri Orangtua Mahasiswa
Pembukaan Agripreneur Fest 2018 berlangsung meriah dan semarak. Tidak hanya karena sejumlah stand dari UMKM, mahasiswa Agribisnis, beberapa perusahaan dan Dinas Tanaman Pangan saja. Melainkan semua orangtua mahasiswa baru Prodi Agribisnis sengaja diundang dan menhadirinya.
Orangtua mahasiswa baru duduk di tempat khusus, di depan panggung tempat Agripreneur Fest 2018 diresmikan, dan ajang penampilan seni. Mereka dipersilakan bertanya apapun seputar aktivitas mahasiswa, program dan prospek dari kerja lulusan Prodi Agribisnis.
Dalam ‘talk show’ yang dipandu Novyandra Ilham Bahtera , dengan narasumber Fournita, Eddy Jajang J Atmaja (dosen Prodi Agribisnis UBB) dan Andreas (alumni Agribisnis), Kaprodi Agribisnis Yudi Sapta Pranoto menjelaskan visi prodi ini menjad prodi unggul berbasis potensi lokal.
“Kita sengaja mengundang orangtua mahasiswa baru karena banyak hal. Disamping ajang bersilaturahmi dengan dosen Agribisnis, orangtua mahasiswa dapat melihat langsung aktivitas Agribisnis dan kampus UBB,” ujar Yudi.
Cara ini sambungnya sebagai salah satu bagian untuk ‘mendekatkan’ orangtua dengan prodi dan kampus UBB. Sebab selama ini orangtua hanya melihat langsung aktivitas anaknya ketika wisuda. Padahal dukungan orangtua itu sangat besar dalam proses perjalanan studi mahasiswa meraih sukses, terutama dalam upaya menumbuh-kembangkan jiwa kewiraswastaan mereka.
Sementara itu Adreas menceritakan proses ia, saudara dan orangtuanya ‘bertungkus-lumus’ ketika awal merintis usaha perkebunan sawit hingga hari ini berhasil memiliki kebun seluas sembilan hektar.
Ia minta kepada mahasiswa yang baru memulai usaha untuk tahan banting dan tak pernah putus asa. Sebab apapun usaha baru biasanya dihadang banyak masalah, baik dari sisi personel atau tenaga kerja maupun keuangan.
“Ketika saya memulai usaha, harus bahu-membahu dengan saudara dan kedua orangtua. Maklum untuk bayar upah per hari sebesar Rp 100.000, kita tak punya uang. Semua dikerjakan bersama, hingga kami berhasil mengelola kebun sawit seluas sembilan hektar,” ujar Andreas (Eddy Jajang J Atmaja, Ari Riski)
